Ilustrasi, sumber foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO/hp
KIU33 - Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kota Bogor, Jawa Barat, kembali melakukan pengetatan di sejumlah sektor untuk mengantisipasi kasus virus corona.
Demikian disampaikan Wali Kota Bogor Bima Arya usai rapat koordinasi secara virtual dengan Forkopimda Kota Bogor dan Gubernur Jawa Barat.
“Hasil rapat Satgas, termasuk juga arahan dari gubernur menunjukkan data grafiknya naik COVID-19. Ini harus kita waspadai. Gubernur menyampaikan bahwa Siaga 1 di Jawa Barat, kemungkinan karena arus mudik dan saja varian baru, tapi perlu diteliti lebih lanjut," kata Bima Arya di Balai Kota Bogor, Selasa 15 Juni 2021.
Terjadi lonjakan kasus di Kota Bogor Kota
Di Kota Bogor, kata Bima, terjadi lonjakan kasus COVID-19 dibandingkan pekan sebelumnya.
“Kita kondisinya siaga semuanya. Tingkat keterisian di rumah sakit (BOR) di angka 49 persen, setelah kemarin selalu di bawah 20 persen, sedikit lagi lewati ambang batas WHO (60 persen). Tapi masih cukup rendah dibanding kota-kota lain di Jawa Barat,” kata Bima.
Untuk itu, Bima memerintahkan Dinas Kesehatan berkoordinasi dengan rumah sakit untuk menambah lebih banyak tempat tidur isolasi, termasuk gedung-gedung milik pemerintah yang bisa dijadikan pusat isolasi.
“RSUD Kota Bogor sudah ditambah kapasitasnya jadi 100 untuk mengantisipasi lonjakan ke depan. Kita menjajaki juga tempat isolasi tambahan selain di BPKP Ciawi. Jadi, ada satu lokasi yang sedang kita siapkan juga sehingga kalau terjadi lonjakan, pasien bisa dialokasikan ke tempat itu," ujarnya.
Warga disarankan untuk menahan mobilitas
Bima juga mengimbau masyarakat menahan mobilitas dengan memperketat pengawasan wilayah.
“Satgas dan Forkopimda akan melakukan tindakan yang lebih tegas untuk setiap pelanggaran protokol kesehatan. Kita lihat warga sudah mulai merasa kondisi sudah biasa, sehingga banyak yang melanggar di atas jam operasional," ujarnya.
Bima juga menjelaskan, hingga saat ini operasional retail dan resto dari pemerintah pusat masih berlangsung hingga pukul 21.00 WIB.
"Kami masih tunggu update lebih lanjut karena kita harus pastikan juga ekonomi tetap tidak terdampak," katanya.
Bima Arya minta tambahan vaksin
Langkah lainnya adalah terus mempercepat vaksinasi dengan menjangkau lebih banyak orang.
“Stoknya masih ada tapi terbatas. Saya langsung akan minta ke Menkes untuk ditambah vaksin lagi. Kamis (17/6/2021) presiden akan ke Stasiun Bogor untuk meninjau pelaksanaan pemberian vaksin. Kita akan melakukan pemberian vaksin kepada pengguna KRL yang sangat berisiko juga membawa virus dari luar masuk ke Kota Bogor,” ujarnya.
Potensi peningkatan kasus COVID-19 juga berdampak pada proses simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kota Bogor. Bima menyatakan simulasi PTM dihentikan sementara hingga waktu yang belum ditentukan.
“Bahwa kondisinya sedang tidak biasa, kami juga memutuskan untuk sementara menghentikan dulu simulasi PTM. Tapi rencana tatap mukanya masih belum bisa kita pastikan, apakah batal atau bagaimana. Tapi proses simulasinya yang sekarang kita hentikan dulu. Saya sudah minta kepada Disdik untuk mengkomunikasikan kepada semua. Mulai besok sebaiknya dihentikan dulu,” kata Bima.
Sebenarnya, kata Bima, simulasi PTM berjalan lancar, tidak ada keluhan atau laporan dari warga. "Lonjakan kasus ini kalau saya lihat banyak terjadi akibat dari luar kota atau kerumunan di dalam kota. Kalau kegiatan tatap muka belum ada laporan kecuali yang pesantren kemarin," katanya.
Peningkatan kasus 51 persen
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Sri Nowo Retno mengungkapkan, terjadi peningkatan kasus COVID-19 sebesar 51 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
“Ada dari klaster keluarga, luar kota, dan lain sebagainya. Kami imbau prokes tetap dijalankan. BOR juga naik, sudah 49 persen. Minggu sebelumnya masih 24 persen," kata Retno.

No comments:
Post a Comment