Thursday, September 30, 2021

Seputar Dampak Menopause Bagi Relasi Ibu dan Anak

 

Ilustrasi mama dan anaknya via https://terimakasihibu.blogspot.com


Kiu33 - Menopause adalah kondisi saat berakhirnya siklus menstruasi secara alami, yang biasanya terjadi saat wanita telah memasuki usia 45 hingga 55 tahun. Seorang wanita bisa dikatakan sudah menopause jika ia sudah tidak mengalami menstruasi lagi, minimal satu tahun. 


Namun, menginjak usia 30an, wanita biasanya juga telah mengalami apa yang dinamakan perimenopause sehingga ada beberapa gejala yang mungkin mulai ibu alami. Menariknya, di masa ibu mengalami perimenopause atau menopause, umumnya mereka telah memiliki seorang putri yang sedang menginjak usia remaja yang berarti tengah mengalami pubertas. Jadi, bisa dikatakan ada dua wanita atau mungkin lebih di dalam satu rumah yang tengah mengalami perubahan hormonal.


Sayangnya, kondisi ini juga kerap membuat wanita, baik itu ibu dan anak perempuan menjadi sangat sensitif, mudah marah, dan mengalami ledakan emosional lainnya. Jika gejala akibat perubahan hormonal ini tidak dikontrol, bukan tidak mungkin hubungan ibu dan anak perempuan bisa merenggang akibat pertengkaran. 


Perubahan Suasana Hati Akibat Gejolak Hormon


Secara umum, ibu yang sudah menopause atau dalam tahapan perimenopause akan mengalami beberapa perubahan psikologis akibat perubahan hormon. Beberapanya antara lain suasana hati yang berubah-ubah atau moody, hingga depresi. Gejala fisik seperti hot flashes atau kondisi yang membuat ibu merasa panas atau gerah sehingga mudah berkeringat juga bisa membuat ibu sulit tidur sehingga secara keseluruhan, kesejahteraan akan sangat terganggu dan ibu bisa dengan mudah marah. 


Sementara pada anak perempuan, pubertas dapat menjadi masa yang sulit bagi mereka. Mereka sangat mungkin mulai merasa minder dengan perubahan fisik yang dialaminya. Namun, pubertas juga bisa dapat menjadi saat yang menyenangkan karena anak mengembangkan emosi dan perasaan baru. Masa pubertas juga kerap disebut sebagai tahapan “rollercoaster” karena perubahan emosional mereka bisa berubah dengan cepat dan tidak dapat dijelaskan.


Jadi, jika ada pertengkaran, tangisan, atau aksi membanting pintu antara anak perempuan dan ibunya di rumah, maka ini semua sebenarnya bisa saja terjadi akibat perubahan hormonal. Sebagai anggota keluarga yang sedang dalam kondisi baik, maka ada baiknya untuk menenangkan keduanya dan memperhatikan kondisi kesehatan keduanya dengan baik.


Mengatasi Perubahan Suasana Hati Akibat Gejolak Hormon  


Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan oleh ibu dan anak dalam mengatasi perubahan suasana hati akibat gejolak hormon: 


1. Makan Bergizi


Mengonsumsi makanan bergizi, terutama yang mengandung karbohidrat kompleks, diduga membantu mengatasi mood swing akibat gejolak perubahan hormon. Sebab zat ini mampu meningkatkan produksi hormon serotonin yang bisa memperbaiki mood. Kamu bisa coba konsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, brokoli, wortel, bayam, labu, kubis, tomat, dan ubi jalar.


2. Rutin Olahraga


Pastikan juga untuk meningkatkan kesehatan fisik dengan olahraga secara teratur. Olahraga fisik bisa menghasilkan hormon endorfin yang baik untuk mengurangi stres dan menangani mood swing, bahkan ia bisa meningkatkan kualitas tidur. 


3. Batasi Alkohol, Kafein, dan Minuman Manis


Ketika sedang merasakan perubahan suasana hati, sebaiknya hindari konsumsi minuman beralkohol dan berkafein. Selain bisa membuat merasa letih, minuman tersebut juga dapat menimbulkan atau memperburuk rasa cemas. Hindari juga makanan atau minuman yang manis, karena gula yang terkandung di dalamnya bisa menyebabkan fluktuasi kadar glukosa dalam darah yang bisa memperburuk mood swing.


4. Atasi Stres


Perubahan suasana hati dapat menimbulkan beragam keluhan seperti stres. Oleh karena itu, kendalikan stres dengan melakukan meditasi, yoga, terapi pijat, atau hal-hal lain yang menyenangkan. 

No comments:

Post a Comment